Di tengah deru pembangunan dan kepungan kawasan industri di Jakarta, sebuah pemandangan kontras masih bertahan di wilayah Rorotan, Jakarta Utara. Di sana, sekelompok peternak bebek tetap setia mengelola kandang-kandang mereka di sela-sela hamparan sawah. Salah satu sosok yang menjadi sorotan adalah Mat Yasin, seorang pria berusia 68 tahun yang membuktikan bahwa usia senja bukan penghalang untuk tetap produktif dan menghasilkan pendapatan yang menjanjikan. Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar tinggi, Mat Yasin bersama puluhan peternak lainnya sudah sibuk memanen telur di kandang mereka. Dari sekitar 700 ekor bebek yang dipeliharanya, ia mampu mengumpulkan rata-rata 230 butir telur setiap hari. Telur-telur segar ini kemudian dijual kepada tengkulak dengan harga kisaran Rp2.100 hingga Rp2.400 per butir. Dari ketekunannya tersebut, Mat Yasin mampu mencatatkan omzet sekitar Rp15 juta setiap bulannya. Meski angka tersebut merupakan pendapatan kotor, keuntungan bersih yang ia kantongi mencapai sekitar Rp7,5 juta setelah dipotong biaya operasional seperti pembelian pakan, vitamin, dan sewa lahan. Baginya, pendapatan ini lebih dari cukup untuk menopang kebutuhan keluarga, memiliki kendaraan, bahkan menyekolahkan anak-anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi. Strategi yang digunakan untuk menjaga efisiensi biaya adalah pada pemilihan pakan. Dibandingkan menggunakan pakan pabrikan yang mahal, Mat Yasin dan peternak lainnya lebih memilih menggunakan campuran roti bekas yang dicacah dan kepala udang. Selain harganya yang lebih terjangkau, pakan alami ini dinilai tetap mampu menjaga kualitas telur yang dihasilkan. Saat ini, ada sekitar 30 anggota yang tergabung dalam Kelompok Peternak Bebek Rorotan Maju Bersama. Mereka memanfaatkan lahan sekitar satu hektare milik perusahaan swasta dengan sistem sewa bulanan yang relatif murah. Keberadaan peternakan ini seolah menjadi oase ekonomi bagi para lansia di Jakarta, membuktikan bahwa sektor agribisnis tetap bisa eksis dan menguntungkan meski di jantung Ibu Kota yang padat.
Kamu harus terdaftar atau login untuk berkomentar Masuk?
redaktur