clock December 24,2023
Kepemimpinan Baru di Tengah Krisis: Ferry Irwandi dan Kebangkitan Sosial Indonesia

Kepemimpinan Baru di Tengah Krisis: Ferry Irwandi dan Kebangkitan Sosial Indonesia

Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan yang kompleks, mulai dari ketidakstabilan ekonomi, ketimpangan sosial, disinformasi digital, hingga bencana alam yang beruntun. Di tengah menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi formal, muncul harapan baru melalui sosok-sosok nonformal yang mampu menggerakkan masyarakat dari ruang-ruang yang sebelumnya tidak terduga. Salah satu sosok tersebut adalah Ferry Irwandi, seorang konten kreator, aktivis sosial, dan pendiri Malaka Project, yang baru-baru ini menjadi sorotan nasional berkat aksi kemanusiaannya membantu korban banjir dan tanah longsor di Sumatera.

Ferry Irwandi bukan sekadar individu, melainkan representasi dari model kepemimpinan baru yang tidak lahir dari struktur formal. Kepemimpinannya tumbuh dari kombinasi empati, kapasitas digital, kemampuan naratif, dan dorongan moral untuk menggerakkan masyarakat secara kolektif. Ia memimpin bukan dengan otoritas, tetapi dengan koneksi, keaslian, dan narasi. Ferry bukan hanya seorang influencer, tetapi pemimpin sosial yang menunjukkan bahwa kekuatan perubahan masa depan Indonesia ada di tangan masyarakat, bukan hanya pejabat formal.

Pada akhir November dan awal Desember 2025, hujan ekstrem mengguyur wilayah Sumatera, menyebabkan banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Lebih dari 800 korban jiwa tercatat, ribuan lainnya luka-luka, dan satu juta warga terpaksa mengungsi. Di tengah situasi genting ini, respons pemerintah dianggap lambat, namun Ferry tampil sebagai katalis gerakan cepat berbasis rakyat. Melalui kampanye donasi "Solidaritas Bantu Korban di Sumatera" di platform Kitabisa, Ferry berhasil mengumpulkan Rp 10,3 miliar dalam 24 jam, memecahkan rekor nasional untuk kampanye bencana di Indonesia.

Ferry Irwandi menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak harus berbasis dominasi, tetapi koneksi. Kepemimpinan kolektif dan kolaboratif yang merangkul, bukan memukul, menjadi kekuatan asli bangsa Indonesia: gotong royong. Ferry menyampaikan pesan "dari rakyat untuk rakyat", mengembalikan kesadaran bahwa solidaritas adalah milik setiap warga yang peduli. Gerakan masyarakat sipil dapat menjadi tulang punggung ketika birokrasi kehilangan momentum.

Ferry Irwandi mencerminkan generasi pemimpin baru yang lahir dari kombinasi kesadaran, kekuatan bertindak, dan kemampuan memperluas dampak. Kepemimpinannya relevan dengan kondisi Indonesia saat ini, di mana birokrasi sering kalah cepat dibanding dinamika masalah di lapangan. Ferry memberikan tiga pelajaran penting bagi pemuda: mereka tidak perlu menunggu panggung untuk memimpin, kepemimpinan yang efektif adalah yang dekat dan komunikatif, dan digital adalah ruang pengaruh yang dapat mengubah arah solidaritas nasional.

Bayangkan jika Indonesia memiliki lebih banyak "Ferry Irwandi". Bukan berarti harus identik dengan Ferry sebagai pribadi, melainkan berbagi pola, anak muda yang kritis, komunikatif, empatik, berpihak pada korban, dan mampu memobilisasi solidaritas lintas daerah. Jika setiap dari 38 provinsi memiliki 5 hingga 10 sosok seperti itu, kita akan memiliki sedikitnya 200 hingga 300 pemimpin informal yang dapat menjadi pusat empati sekaligus pusat solusi.

Ferry Irwandi bukan fenomena tunggal, ia adalah sinyal bahwa simbol generasi baru pemimpin sosial sedang bangkit di seluruh Indonesia. Kepemimpinan seperti ini sangat dibutuhkan pada era ketika kepercayaan publik terhadap institusi formal melemah. Generasi muda lebih percaya pada keaslian dibandingkan formalitas. Mereka lebih terhubung dengan tokoh-tokoh yang berbicara dalam bahasa mereka, bukan bahasa politik. Ferry hadir di ruang itu, ruang di mana kepemimpinan menjadi tindakan reflektif sekaligus responsif.

Dengan keberanian dan ketulusan, Ferry menunjukkan bahwa pemuda tidak harus menunggu pangkat untuk memimpin. Pemuda dapat memimpin dari ruang digital, dari ruang cerita, dari ruang sosial, dan dari ruang kesadaran yang mereka bangun sendiri. Inilah potret kebangkitan hari ini, kebangkitan yang tidak datang dari proklamasi, tetapi dari tindakan kecil yang dilakukan dengan keberanian dan ketulusan. Indonesia membutuhkan ratusan, bahkan ribuan Ferry Irwandi lain di berbagai daerah, di berbagai sektor, dan di berbagai situasi. Jika itu terjadi, maka kita akan melihat pergeseran paradigma, dari negara yang menunggu aksi ke negara yang digerakkan oleh rakyatnya sendiri.

Kamu harus terdaftar atau login untuk berkomentar Masuk?

Follow US

Top Categories