Fenomena perbaikan jalan dengan metode tambal sulam di berbagai wilayah Jakarta kini tengah menuai sorotan karena dianggap hanya menjadi solusi jangka pendek yang tidak bertahan lama. Meskipun langkah cepat diambil untuk menutup lubang-lubang yang membahayakan, kualitas perbaikan yang rendah sering kali membuat aspal kembali mengelupas, terutama saat memasuki musim hujan dengan intensitas tinggi. Banyak pihak menilai bahwa pola penanganan saat ini belum menyentuh penyebab utama kerusakan, seperti sistem drainase yang buruk serta beban kendaraan berat yang melebihi kapasitas jalan. Tanpa adanya perbaikan menyeluruh pada struktur bawah jalan dan pembenahan saluran air di sekitarnya, genangan air akan terus merusak lapisan aspal yang baru saja diperbaiki, sehingga menciptakan siklus kerusakan yang berulang di titik yang sama. Kondisi ini tidak hanya menguras anggaran daerah secara tidak efisien, tetapi juga tetap membahayakan keselamatan para pengguna jalan, khususnya pengendara roda dua. Keluhan masyarakat mengenai jalan bergelombang dan lubang yang muncul kembali dalam waktu singkat menunjukkan perlunya standar baru dalam pemeliharaan infrastruktur kota agar lebih tahan lama dan berkualitas tinggi. Penerapan teknologi pengaspalan yang lebih maju serta pengawasan ketat terhadap drainase menjadi kunci utama agar jalan-jalan di Jakarta tidak lagi sekadar ditambal secara instan. Diperlukan komitmen untuk melakukan rekonstruksi jalan secara total pada titik-titik rawan guna memastikan kenyamanan mobilitas warga dan efisiensi penggunaan dana publik dalam jangka panjang.
Kamu harus terdaftar atau login untuk berkomentar Masuk?
redaktur