Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) menyoroti fenomena hilangnya sejumlah situ atau daerah resapan air di wilayah Jabodetabek sebagai faktor utama yang memperparah bencana banjir. Penyusutan jumlah situ ini dinilai menghilangkan fungsi kontrol air alami yang seharusnya mampu menampung luapan saat curah hujan tinggi. Berdasarkan hasil pemetaan, banyak situ yang kini telah beralih fungsi menjadi kawasan pemukiman, komersial, hingga area industri. Kondisi ini menyebabkan air hujan tidak lagi terserap ke dalam tanah atau tertampung di kolam retensi alami, melainkan langsung mengalir ke drainase dan sungai yang kapasitasnya sudah melampaui batas. Pihak BBWSCC menekankan bahwa normalisasi sungai saja tidak akan cukup untuk mengatasi banjir jika hulu dan kawasan penyangga kehilangan area parkir airnya. Oleh karena itu, langkah revitalisasi situ yang masih tersisa serta upaya pengembalian fungsi lahan menjadi prioritas yang harus segera dikerjakan secara lintas wilayah antara pemerintah daerah. Melalui peringatan ini, masyarakat dan pengembang diimbau untuk lebih peduli terhadap pelestarian kawasan resapan air. Penegakan hukum terhadap pengalihan fungsi lahan situ secara ilegal dianggap sebagai kunci krusial agar risiko banjir besar di masa mendatang dapat diminimalisir demi keselamatan warga di kawasan megapolitan.
Kamu harus terdaftar atau login untuk berkomentar Masuk?
redaktur